Istilah “Bajakan” dan “Pak Tani”, tepatkah?

Assalamu’alaikum.

Halo, sobat Duosia atau pembaca sekalian. Ini merupakan Artikel Opini, yang mungkin menjadi pertama di Duosia kali ini. Anda pasti tau tentang istilah yang melekat pada penggunaan Perangkat Lunak sehari-hari pada Komputer Anda, seperti “Bajakan” dan “Pak Tani”, kan?

Saya sangat yakin, terutama di Indonesia ini, pasti tidak asing dengan kedua Istilah di atas? Ya, Istilah tersebut biasanya di gunakan setelah Perangkat Lunak yang seharusnya berbayar, malah bisa di “gratiskan”. Jadilah, populer istilah yang terkait dengan “Bajakan”, seperti “Software Bajakan”, dll.

Istilah “Pak Tani” juga sudah pasti tidak asing lagi, terutama bagi para PC Gamers. Istilah tersebut di gunakan sebagai pengganti dari Istilah “Bajakan” saat ini.

Lalu, apakah kedua istilah tersebut tepat? Atau, justru salah? Silahkan baca artikel nya berikut :)

Lisensi:

Artikel ini saya Lisensi kan dengan CC BY-SA 4.0. Artinya, sebelum Anda menggunakan Artikel ini, baik mengcopas nya, atau membuat Artikel Turunan dari ini, untuk tujuan dan keperluan apapun, termasuk komersial sekalipun. Maka, Anda harus membaca, pelajari dan pahami Lisensi ini terlebih dahulu.

Untuk membaca dan memahami Lisensi nya, silahkan kunjungi Web Page nya di sini.

Terima kasih ^_^

Disclaimer:

Seluruh penjelasan yang ada di dalam artikel ini merupakan pendapat menurut saya. Ya, namanya juga ini Artikel Opini.

Jadi, saya tidak menjamin bahwa yang ada di artikel ini benar bagi pembaca sekalian. Karena saya tidak menjamin nya, maka mungkin ada kesalahan disini, dimulai dari penjelasan/pembahasan nya yang salah, sampai ada kata/kalimat yang salah.

Jika Anda mempunyai saran nya, bisa Anda komentar di akhir Artikel ini. Tapi, tolong, jangan di bully, yah, saya juga manusia seperti pembaca sekalian. Dan, saya juga bukanlah seorang ahli bahasa ataupun ahli IT juga, hehe :-D

Terima Kasih ^_^

Apa itu “Bajakan”?

Kapal Bajak Laut
Foto sebuah kapal bajak laut di Pelabuhan Gdynia, Polandia saat Matahari Terbit. Di Potret dan/atau di unggah oleh Cezary Kukowka. Foto tersebut di Lisensi kan dengan menggunakan Unsplash License.

Bajakan yang di maksud yaitu sebuah tindakan pengguna untuk memperoleh suatu konten/karya seseorang apapun itu (Terutama yang bersifat digital, seperti: Karya Tulis, Video, Lagu/Musik, Permainan, Perangkat Lunak, dll) yang harusnya membayar, tapi bisa mendapatkannya secara Gratis.

Istilah tersebut biasanya merujuk kepada Karya seseorang yang bersifat Digital, atau Karya yang “Di-digitalkan” oleh seseorang. Contoh karya seseorang yang Digital itu seperti: Perangkat Lunak, Musik/Lagu, Video/Film, Karya Tulis Digital (seperti Artikel, Dokumen Digital, dll), dll.

Sedangkan, Contoh Karya yang “Di-digitalkan” itu seperti: Lukisan, Dokumen dan Gambar yang sudah di foto/di scan, Nyanyian seseorang yang telah di rekam (baik itu sebagai Video + Audio atau Audio nya saja), dll.

Biasanya, agar kita dapat memperoleh sebuah karya yang berbayar tersebut, kita bisa mendapatkannya dari Internet, alias dengan mendownload nya. Orang-orang yang kerap membaginya bisa di sebut sebagai Pembajak. Sedangkan, orang yang berusaha dan/atau mengikuti cara yang tersedia pada sebuah Website/Blog yang di sediakan oleh seorang/para Pembajak untuk memperoleh nya, itu bisa di sebut Membajak.

Tindakan tersebut merupakan tindakan yang dapat merubah fungsionalitas sebuah Karya seseorang dari yang asli nya. Atau, dapat menghancurkan “penghalang” yang seharusnya itu melindungi karya nya dan keinginan pembuatnya.

Contoh nya dalam kasus Perangkat Lunak di Komputer. Perangkat Lunak secara Biaya ada 2 macam, yaitu Perangkat Lunak yang bisa di peroleh secara Gratis atau membayarnya (Bisa di sebut “Perangkat Lunak Berbayar”) (Baik itu: Sewa, Sekali beli, dll).

Di dalam Perangkat Lunak Berbayar, biasanya sebelum membeli Perangkat Lunak nya, ada Masa Percobaan (Trial/Evaluation) yang bisa Anda nikmati sebelum membeli, dimana dalam masa tersebut, Perangkat Lunak biasanya memiliki fitur dan/atau waktu terbatas.

Seharusnya, pengguna tetap menuruti keterbatasan tersebut dalam Masa Percobaan, tapi dengan Membajak, maka seseorang bisa menikmati fitur secara penuh, tanpa batas waktu dan tentunya secara Gratis.

Istilah tersebut sangat populer bagi kalangan manapun, termasuk kalangan pengguna komputer. Contoh, istilah yang sering kita dengar dari kata Bajakan dari Internet adalah Pembajakan Software, Software BajakanFilm BajakanMusik Bajakan dan lain-lain sebagainya.


Lalu, bagaimana dengan istilah “Pak Tani”?

Foto seorang Petani Wanita di Chiang Mai, Thailand yang sedang menanam Padi. Di Potret dan/atau di unggah oleh Eduardo Prim. Foto tersebut di Lisensi kan dengan menggunakan Unsplash License.

Apa itu Pak Tani? Pak Tani disini adalah Istilah lain dari kata Bajakan. Istilah “Pak Tani” disini (terutama di dalam dunia TI), merupakan istilah halus dari “Bajakan” yang cenderung ‘kasar’.

Tapi, makna dari istilah tersebut masih sama, kok, tidak jauh berbeda, hanya saja cara berucapnya berbeda. Seperti, Software versi Pak Tani, Software Pak Tani, Game versi Pak Tani dan lain-lain sebagainya.

Katanya, istilah tersebut pertama kali di dengungkan di dalam sebuah sub forum Kaskus, yakni CCPB.

Saya tidak tahu secara pasti asal dari kata “Pak Tani” tersebut, baik dari mana nya dan asal kata itu sendiri. Kalau menurut saya, istilah tersebut di ambil dari Istilah “Bajakan”, yang menurut Website KBBI itu artinya “hasil membajak tanah”. Istilah “Bajakan” dalam karya seseorang tidak pernah di sebutkan di dalam kamus tersebut, hanya berhubungan dengan pertanian dan tanah saja.

Dan, mereka menyimpulkan bahwa “bajak” itu merupakan ‘kebiasaan’ seorang petani yang suka membajak tanah atau kebun untuk memperoleh Hasil Panen. Jadi, mereka (mungkin) menganggap bahwa Karya Seseorang itu adalah Hasil Panen dari Tanah dan Kebun Seseorang. Anda pasti bisa memahami nya, kan?

Istilah ini menjadi cukup populer, terutama dalam halnya dunia PC Gaming, yang kerap kali pengguna Indonesia membajak sebuah Game agar bisa memperoleh nya secara gratis. Hampir sama sih dengan Petani yang membajak tanahnya untuk suatu tujuan.


Apakah kedua Istilah tersebut tepat? Dan, kenapa?

Penggunaan Istilah “Bajakan” dan “Pembajakan” sangat tidak tepat untuk mengenai sebuah karya.

Kenapa tidak tepat? Seperti yang Anda ketahui, bahwa istilah tersebut berasal dari kata Pirate yang berarti Bajak laut, Pirated yang artinya “barang yang di bajak” atau “di rampas” dan Piracy yang berarti “Pembajakan”.

Hal ini, secara tidak langsung, kedua kata tersebut menyiratkan pada seorang Perompak Bajak Laut yang merampas harta seseorang dengan cara apapun bahkan dengan menyandera, menculik sampai membunuh sekalipun.

Kedua kata tersebut sangatlah tidak masuk akal, mengingat kita hanya melakukan menyalinkan sebuah karya yang merupakan keseharian kita sebagai manusia. Jikapun Anda merubahnya, itu Anda lakukan agar bisa di gunakan atau di nikmati.

Dan, kita tidak mungkin melakukan itu dengan menyandera, menculik sampai membunuh pemilik Karya tersebut, kan? Jadi, tolong jangan samakan kita dengan Perompak Bajak Laut dengan menyebut kita sebagai “Pembajak” atau “Bajakan”.

Lalu, bagaimana dengan “Pak Tani”?

Istilah “Pak Tani” juga sama tidak tepat nya.

Istilah tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa Anda menuduh kepada Petani telah mengambil hasil panen dari tanah orang lain, lalu hasil nya di jual kepada orang lain (yang tentu saja, bukan pemilik tanah nya). Padahal, Anda sadar bahwa tindakan tersebut tidak boleh di lakukan dan merupakan tindakan yang buruk.

Lagipula, istilah tersebut masih tidak masuk akal, dalam komputer, 1 file saja bisa di gandakan selama beberapa detik saja. Selain itu, 1 file juga bisa di timpa dengan sangat cepat dalam waktu beberapa detik saja, sehingga file tersebut bisa berubah, tergantung apa yang di timpa. Lalu, bagaimana dengan hasil panen petani?

Oh, iya, saya lupa. Dengan menggunakan istilah “pak tani”, ini artinya Anda secara tidak langsung telah menyamakan Karya Digital Seseorang (termasuk Perangkat Lunak) dengan Dunia Pertanian, yang sudah jelas berbeda dan tidak ada korelasi nya.

Meski Indonesia merupakan negara Agraria, tolong jangan hubungkan dunia Pertanian dengan dunia Komputer. Apalagi, jika ini menyangkut pada Karya Digital Seseorang, yang malah jadi gak nyambung dan (maaf) ini pembodohan, serius.


Jadi, Maksud Anda adalah kita di perbolehkan untuk melakukan tindakan tersebut? Jika tidak, apa maksudnya?

Oh, tentu tidak seperti itu! Saya tetap tidak memperbolehkan untuk melakukan tindakan tersebut, karena tindakan seperti itu juga salah di beberapa karya seseorang. Maksud saya adalah untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Sebuah kesalahpahaman yang “memasuk akalkan” sebuah kata/istilah yang sebenarnya tidak masuk akal sama sekali.

Jadi, tindakan tersebut tidak pantas di sebutkan dengan “Bajakan”, “Pembajak”, “Pak Tani”, dll. Karena harusnya itu tidak ada hubungan nya sama sekali dengan karya seseorang. Apalagi jika karya tersebut tersebar di berbagai media, termasuk Internet.


Lantas, Istilah apa yang paling tepat saat ini?

Istilah yang paling tepat saat ini adalah kita telah melakukan Pelanggaran Lisensi. Ya, Anda tidak salah, kita selama ini telah melanggar lisensi sebelum kita akhirnya menikmati sebuah karya dari seseorang.

Atau, bisa gunakan istilah Penyalinan tidak berizin (atau Penyalinan yang dilarang untuk situasi yang mana itu Illegal/Melanggar Hukum).

Lalu, penyebutan nya apakah akan seperti ini: Software Pelanggaran Lisensi, Film Pelanggaran Lisensi, dll, gitu?

Hehe, gini lho, Pelanggaran Lisensi ini kan cuma istilah, bukan sebuah kata yang ‘mutlak’, ini ‘relatif’. Seperti Istilah Bajakan yang bisa merembet ke Pembajak, Pembajakan dan Membajak.

Jadi, tolong, bukan seperti itu cara menggunakan nya, yah, hehe :-D

Kalopun Anda ingin sebutan lain nya, mungkin bisa Anda gunakan Pelanggaran Hak Cipta (Copyright Infringement) untuk menggantikan Pelanggaran Lisensi. Karena dengan Melanggar Lisensi, maka secara otomatis Anda akan di kenakan Pelanggaran Hak Cipta juga.


Lalu, apa kesalahan yang telah saya lakukan selama ini?

Kesalahan Anda sederhana, Anda tidak pernah membaca Perjanjian Lisensi atau Aturan Lisensi sebelum menikmati karya seseorang, namun Anda menyetujui nya.

Contohnya dalam hal Perangkat Lunak, sebelum Instalasi, biasanya kita di suguhkan dengan Perjanjian Lisensi atau Bahasa Inggris nya adalah License Agreement. Namun, kita langsung menyetujui nya, padahal jangankan kita/kalian untuk memahaminya, di baca saja tidak. Hal ini dilakukan agar kita bisa menikmati Perangkat Lunak tersebut, kalau tidak menyetujuinya, maka kita tidak mungkin bisa menggunakannya.

Padahal, Perjanjian tersebut mengatur distribusi, menyalinkan, menggunakan, keperluan penggunaan (termasuk keperluan komersial), dan modifikasi pada sebuah karya. Contohnya lagi di dalam Perangkat Lunak, terutama yang Berpemilik (Proprietary Software), jangankan kita untuk merubahnya, di distribusikan pun (termasuk menyalinkan) kalau Anda membaca perjanjian nya, maka hal tersebut (biasanya) tidak boleh di lakukan.

Oh, ya, Perjanjian Lisensi bisa di sebut Syarat dan Ketentuan atau Terms and Condition. Karena sama-sama mengatur persyaratan sebelum menikmati karya seseorang, termasuk Perangkat Lunak.


Lantas, apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya?

Cara memperbaikinya adalah baca, pelajari dan pahami Perjanjian Lisensi nya terlebih dahulu sebelum menikmati karya seseorang. Termasuk pada instalasi sebuah Perangkat Lunak.

Masalah setuju dan tidak setuju, itu berada di tangan kamu. Kalo kamu keberatan dengan Lisensi nya, maka kamu tidak perlu menyetujui nya. Kalau tidak, yah kamu bisa menyetujui nya.

Untuk kasus perangkat lunak, kalau kamu takut dosa (Baik menyetujui lisensi nya atau tidak) dan ingin menggunakan Perangkat Lunak, yang katakanlah untuk memenuhi kebutuhan kamu. Maka, gunakanlah Perangkat Lunak Bebas (Free Software) atau Sumber Terbuka (Open-source), dengan menggantinya dari Perangkat Lunak Berpemilik (Proprietary Software) yang Anda gunakan sekarang.

Seperti menggantikan Microsoft Office dengan LibreOffice untuk keperluan perkantoran Anda, daripada menggunakan WPS Office sebagai ganti nya. Atau, menggantikan Oracle SQL dengan MariaDB atau PostgreSQL untuk keperluan Basis Data Relasional pada Aplikasi Web yang kamu buat. Atau, menggantikan Windows dengan Distribusi GNU/Linux. Dan, lain nya.

Nah, itulah cara memperbaiki nya, mudah bukan?


Kesimpulan

Kedua istilah “Bajakan” dan “Pak Tani” sama-sama tidak benar, alasan nya berbeda. Istilah “Bajakan” tidak benar karena tidak masuk akal, sedangkan “Pak Tani” karena itu seolah menuduh Petani untuk melakukan hal yang buruk.

Kedua Istilah tersebut, secara tidak langsung, menghasilkan sebuah tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti dan cenderung tidak masuk akal sama sekali. Selain itu, istilah tersebut justru gak nyambung dan gak masuk akal.

Istilah yang benar harusnya bahwa kita selama ini Melanggar Lisensi, kenapa bisa begitu? Karena Anda tidak membaca dan memahami Perjanjian Lisensi atau License Agreement, namun Anda menyetujui nya. Padahal, Perjanjian tersebut mengatur segala nya tentang Karya yang dia buat, di mulai dari modifikasi sebuah karya, penggunaan/keperluan, bahkan penyalinan dan distribusi sebuah karya. Dan, Perjanjian tersebut hanya di buat oleh Pembuat Karyanya saja.

Perjanjian Lisensi bisa disebut dengan Syarat dan Ketentuan atau bahasa Inggris nya adalah Terms and Condition.

Kenapa? Karena sama-sama mengatur dan membuat sebuah Perjanjian, sebelum akhirnya bisa di gunakan.

Untuk memperbaikinya, maka Anda harus berusaha untuk membaca dan memahami Perjanjian Lisensi terlebih dahulu, sebelum menikmati sebuah Karya Seseorang. Termasuk saat Instalasi Perangkat Lunak. Setuju atau tidak setuju, itu berada di tangan kamu.


Penutup

Terima kasih bagi Anda yang membaca Artikel ini. Mohon maaf jika ada kesalahan pada artikel ini, di mulai dari salah ketik, gak jelas/ngawur, sampai membuat Anda tersinggung. Saya tidak ada maksud untuk menyinggung Anda secara pribadi, saya hanya meluruskan kesalahpahaman yang sering terjadi saat ini melalui artikel ini.

Jika Anda memiliki kritik dan saran, ada pertanyaan bahkan sekedar mau bilang “Hi” dan “Nyimak”, bisa anda lakukan itu di kolom komentar. Anda tinggal ikuti saja aturan sebelum berkomentar, lalu komentar anda akan di terima dengan baik.

Seperti yang saya bilang di dalam bagian Disclaimer, pada awal Artikel, saya sudah menjelaskan bahwa ini merupakan Artikel Opini. Namanya juga Opini, bisa juga salah, terlebih saya bukan seorang yang Ahli Bahasa dan Ahli IT. Kalau Opini saya salah, tolong kasih kritik dan saran, tapi jangan di bully, yah, hehe :-D

Sudah sekian untuk artikel yang saya bagikan ini, dan semoga bermanfaat untuk anda. Terima Kasih ^_^


Referensi Artikel

Meski artikel ini merupakan artikel opini, namun saya masih menggunakan Referensi untuk menulis artikel ini. Di bawah ini merupakan Referensi untuk Artikel ini, silahkan Anda baca, dan pahami juga artikel nya:

  1. Kata-kata yang harus di hindari menurut GNU/FSF
  2. Wiki Pengguna GNU – Oleh: Mignu/Ade Malsasa Akbar dari NotABug
  3. Artikel Berjudul ‘GNU/Linux Bukan untuk Memberantas Pembajakan’ oleh Ade Malsasa Akbar
  4. Artikel Berjudul ‘Tidak Ada “Pembajakan Software” Itu’ oleh Ade Malsasa Akbar
  5. Artikel Berjudul ‘License-kan Pak Tani’ oleh Mahardika Gilang

Sekian untuk Referensi nya, maaf, jika banyak referensi dari Penulis yang sama, dan juga referensi nya tidak begitu banyak. Karena hanya Penulis itulah yang membahas nya dengan sungguh-sungguh. Yah, seperti tidak ada penulis lainnya yang membahas tentang topik ini.

Terima Kasih ^_^

Farrel Franqois

Saya adalah Mahasiswa dan juga seorang Penulis di Duosia, saya memang seorang pengguna Windows dan GNU/Linux. Namun, saya akan lebih sering menulis berbagai Hal tentang Web dan GNU/Linux dalam bentuk Tutorial, Review dan Opini, daripada Windows, karena saya malas menggunakan Windows :-P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Adblock Terdeteksi

Tolong Hargai Kami yang sudah susah payah untuk menulis artikel dengan mematikan Adblock anda, Terimakasih